Jumat, 12 Desember 2008

Sertifikasi

Sekarang ini banyak guru-guru SD yang sedang melaksanakan diklat sertifikasi baik di Surabaya,Pacet,maupun Tuban.Banyak cerita dari teman-teman guru sepulang dari diklat yang menceritakan tentang pengalamannya selama mengikuti diklat.Ada yang senang ada pula yang susah karena takut tak lulus dari diklat tersebut,ya karena dosen diklat yang katanya ada yang agak disiplin,jadinya ketika mengahadapi soal waktu latihan jadi grogi semua.Tapi ada juga yang enjoi karena mentalnya memang sudah siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.Inilah suka duka menghadapi diklat.

Itu semua diprogramkan pemerintah agar guru-guru kelak dikemudian hari menjadi guru yang betul-betul profesional,mengetahui tugas yang semestinya diemban oleh seorang guru untuk mencerdaskan anak bangsa.Guru adalah peletak dasar fondasi kebangsaan yang semakin merosot,peletak dasar nilai-nilai moral seorang anak didik.Inilah yang diharapkan oleh pemerintah yang mengadakan diklat.

Dengan diklat nantinya guru lebih termotifasi untuk mengajar dan mendidik anak bangsa,karena secara otomatis dari segi finansial nantinya pendapatan guru naik menjadi dua kali lipat dari sekarang.

Semoga harapan pemerintah ini dapat menjadi kenyataan dan Indonesia akan bangkit dari keterpurukkannya,kalua sudah begitu maka yang dintungkan adalah masyarakat juga.

Jumat, 05 Desember 2008

Mendapat Guru Baru

Tahun ini SDN BUlak Bantang I-263 mendapat tambahan guru PNS sebanyak 2 orang yaitu Ibu WINARTIK dan Bapak SUNARDI.Ibu Win sebelumnya mengajar di SD Tri Tunggal Surabaya,sedangkan Bapak Nardi sebelumnya mengajar di SD Muhammadiyah 16 yang di kenal dengan SD Kreatif.

Melihat profil beliau maka tenaga-tenaga pengajar yang ada di SDN Bulak Banteng semakin berbobot,tinggal bagaimana mengatur dan menempatkan tenaga-tenaga tersebut sesuai dengan bidangnya.

Berangkat Haji

Ibu kepala sekolah SDN Bulak Banteng I - 263 tahun ini berangkat ke tanah suci bersama Suami,hal ini menambah suasana relijius di SDN yang Beliau pimpin karena sebelunya ada salah satu guru yang juga sudah menunaikan Haji beberapa tahun yang lalu yaitu ibu Sri Purwaningsih.Dengan keberangkatan beliau ini semoga beliau menjadi Haji yang mabrur di ridhoi oleh Allah SWT dan semoga SDN Bulak Banteng I semakin maju.

Sebelum berangkat ke Tanah suci beliau mengadakan meting denga teman-teman guru dan berpesan agar dapatnya selama beliau tinggal ketanah suci ini teman-teman dapat menjaga suasana kerja yang kondusif,dan kalau ada permasalahan di selesaikan dengan baik,dan di konsultasikan dengan kepala sekolah plt yaitu Bapak Heri Purwanto,S.Pd yang juga kepala sekolah SDN Bulak Banteng II.

Beliau berangkat haji dari bandara Juanda Surabaya tanggal 1 Desember 2008,ada beberapa teman dan hadai tolan yang mengantar keberangkatan beliau.

Semoga keberangkatan beliau ke tanah suci akan menambah keimanan dan ketaqwaan dan menambah sepirit dari teman-teman unutk termotiwasi melaksanakan rukun Islam yang ke 6 ini.

Senin, 01 Desember 2008

Perjalanan Kurikulum Di Indonesia

Perjalanan Kurikulum Nasional (pada Pendidikan Dasar dan Menengah)
Bagian 1
Selayang Pandang Perjalanan Kurikulum Nasional
Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan direncanakan pada tahun 2004. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Kurikulum 1968 dan sebelumnya
Awalnya pada tahun 1947, kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947. Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini.
Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan pendekatan-pendekatan di antaranya sebagai berikut.
 Berorientasi pada tujuan
 Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif.
 Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.
 Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.
 Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill).
Kurikulum 1975 hingga menjelang tahun 1983 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratakan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984. Karena itulah pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 oleh kurikulum 1984.
Kurikulum 1984
Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya adalah sebagai berikut.
 Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang belum tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah
 Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengan kemampuan anak didik
 Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di sekolah
 Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang.
 Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat atas termasuk Pendidikan Luar Sekolah.
 Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja.
Atas dasar perkembangan itu maka menjelang tahun 1983 antara kebutuhan atau tuntutan masyarakat dan ilmu pengetahuan/teknologi terhadap pendidikan dalam kurikulum 1975 dianggap tidak sesuai lagi, oleh karena itu diperlukan perubahan kurikulum. Kurikulum 1984 tampil sebagai perbaikan atau revisi terhadap kurikulum 1975. Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
 Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa.
 Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
 Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan.
 Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Konsep-konsep yang dipelajari siswa harus didasarkan kepada pengertian, baru kemudian diberikan latihan setelah mengerti. Untuk menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya.
 Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa. Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret, semikonkret, semiabstrak, dan abstrak dengan menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan. Dari yang mudah menuju ke sukar dan dari sederhana menuju ke kompleks.
 Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses adalah pendekatan belajat mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya. Pendekatan keterampilan proses diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pelajaran.

Sumber : http://rbaryans.wordpress.com/2007/05/16/bagaimanakah-perjalanan-kurikulum-nasional-pada-pendidikan-dasar-dan-menengah/

Kamis, 13 November 2008

Lanjutan Presentasi V A

Ini Adit kelas V A dibantu teman satu kelompok juga menjelaskan tentang hasil kerja kelompoknya
mereka juga membicarakan topik yang sama tentang matematika,siapa tahu suatu saat nanti mereka menjadi duta bangsa yang sanggup menjelaskan permasalahan dan mencari solusi yang terbaik dari masalah yang mereka hadapi.

Kelas V A lagi Presentasi Matematika

Fara anak kelas V A sedang menjelaskan pada teman-temannya tentang penggunaan satuan waktu,panjang ,sudut dan hubungannya dalam pemecahan masalah sehari-hari.Kegiatan ini melatih anak untuk percaya diri tampil kemuka dan keberanian untuk mengemukakan pendapat.Mereka dibantu oleh teman satu kelompok.

Senin, 10 November 2008

Mendearkan Ceramah Agama


Bu Istiana guru Kelas I C,Bu Rohmani Guru Kelas V B,dan Bu Hj.Sri Purwaningsih sedang mendengarkan Ceramah agama sambil mengawasi anak-anak.Ini patut untuk di tiru,bukan anak-anak saja yang diceramahi tapi gurunya perlu mendapat siraman rohani